Sabtu, 16 Januari 2010

Hanjeli, dapatkah menggantikan beras

Sebagian petani di desa Sukarasa kecamatan Darma Kab. Kuningan enggan menanam padi, lebih manyukai menanam hanjeli. Tindakan itu disebabkan harga gabah pada saat ini sedang anjlok di pasaran. Justru harga hanjeli relatif lebih stabil dibanding harga gabah.
Harga gabah kering dari tangan petani sekira Rp. 1.200 sampai Rp. 1.500/Kg, sedangkan hanjeli mentah harganya Rp.1.500/kg, setelah diproses menjadi bubur hanjeli seharga Rp.3.000/Kg. Harga hanjeli yang menggiurkan itu membuat para petani desa Sukarasa meninggalkan padi.
Menurut keterangan Hj. Inoh (54) seorang petani sekaligus penampung hanjeli di desa Sukarasa saat ditemui. Hanjeli merupakan makanan pokok alternatif setelah beras, jagung dan gandum. Hanjeli dapat menggantikan fungsi beras, sebab jika diolah akan menghasilkan beras dan tepung hanjeli.
“Beras dan tepung hanjeli, sekarang ini telah menjadi bahan pokok alternatif khususnya di kota-kota besar. Selain harganya lebih murah juga rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi jika sudah ditanak,” tandas Hj. Inoh.
Selama ini yang mengkonsumsi beras dan tepung hanjeli, tutur Hj. Inoh, masih kebanyakan orang WNI keturunan. Sedangkan warga masyarakat Indonesia belum sepenuhnya mengenal. Padahal bagi masyarakat yang suka jajan di rumah makan milik orang Tionghoa, bubur yang digunakannya yakni bubur hanjeli. Hanjeli memang relatif tidak dikenal, mungkin di Kab. Kuningan hanya di desa Sukarasa saja yang menanamnya.
Padahal pembudidayaannya sudah berlangsung sepuluh tahun yang lalu, atas prakarsa Hj. Inoh sepulang dari tanah Mekah. Tiba-tiba ada salah seorang warga Tionghoa yang mengenalkan jenis tanaman mirip gandum. Semula dirinya tidak tertarik untuk menanam, tapi setelah diyakinkan oleh warga Tionghoa, dan siap untuk membantu pemasarannya maka Hj. Inoh menanamnya. Lama-kelamaan dirinya tertarik dan lebih serius membudidayakannya. Musim panen sekarang ia menanam hanjeli seluas 3 hektar, dan siap dipanen dua bulan di muka.
“Hanjeli merupakan tumbuhan tanpa kambium, seperti pohon jagung atau gandum. Buahnya bulat kecil-kecil, jika belum matang warna hijau sedangkan yang matang warnanya merah hati. Jika dibelah oleh kuku, dagingnya berwarna putih lunak,” tutur Hj.Inoh.
Warga masyarakat disini pun, sekarang ini sudah jarang menanam padi. Jika dijumlahkan lahan yang ditanami hanjeli seluruhnya sekira 10 ha. Perubahan orientasi petani dikarenakan perhitungan untung rugi, jika jenis tanaman hanjeli lebih menguntungkan kenapa tidak? Kalau padi dapat memberikan keuntungan bagi petani, mungkin mereka juga akan menanam padi.
Selain itu, kata Hj. Inoh, pasar sudah membuka diri terhadap hanjeli sehingga pihak petani tidak merasa dipusingkan oleh fluktuatifnya harga. Pasar potensial bagi pemasaran hanjeli adalah Cirebon, Jakarta dan Surabaya. Cirebon prosentasenya paling tinggi sekira 70 persen, dibanding daerah-daerah lain, kedua Jakarta dan ketiga Surabaya. Kami tidak tahu apakah di Cirebonnya hanya untuk dikonsumsi oleh lingkungannya sendiri atau menjual kembali ke pedagang besar lainnya.

Sumber : id.wordpress.com (2010).

0 comments:

Posting Komentar

 
;